Petani Kopi Didorong Naik Kelas, Lampung Barat Hadirkan Pelatihan Langsung di Pekon
Lampung Barat-Pemerintah Kabupaten Lampung Barat terus memperkuat posisinya sebagai lumbung kopi robusta nasional. Lewat Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak), berbagai terobosan digulirkan untuk menjawab tantangan produktivitas dan kualitas. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah program “Sekolah Kopi Masuk Pekon”, sebuah skema pelatihan terstruktur yang akan menjangkau petani di 131 pekon dan 5 kelurahan di seluruh kabupaten.
Program ini dirancang untuk mendekatkan pengetahuan budidaya modern, teknik pascapanen, hingga manajemen usaha kopi langsung ke pusat aktivitas petani. Pendekatan ini sejalan dengan fokus pembangunan daerah pada periode kepemimpinan Bupati–Wakil Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus – Mad Hasnurin, khususnya dalam program prioritas SAT ANANDA SAKTI melalui pilar Ekonomi Gotong Royong yang menekankan peningkatan kesejahteraan petani.
Rapat Lintas Sektor: Sekolah Kopi Disepakati Jadi Gerakan Kolektif Desa
Kepala Disbunnak Lampung Barat, Yudha Setiawan, bersama Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluh (PSP), Anton Wijaya, menjelaskan bahwa percepatan program ini dimatangkan melalui rapat koordinasi lintas sektor pada 28 Oktober lalu.
Pertemuan yang digelar di Sekolah Kopi Pekon Sukajaya itu menghadirkan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pekon (PMD), Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan, para camat, peratin, serta para tutor sekolah kopi.
“Hasil rapat tersebut menyepakati bahwa sekolah kopi masuk pekon menjadi langkah konkret pemerintah untuk hadir lebih dekat dengan petani, sekaligus menjadi strategi menaikkan produktivitas dan kesejahteraan petani kopi di Lampung Barat,” ujar Anton, Selasa (25/11/2025).
Pelatihan Budidaya Modern hingga Penguatan Peran Generasi Muda
Anton menjelaskan, sekolah kopi masuk pekon bukan sekadar pelatihan teknis budidaya, tetapi juga mencakup penguatan pascapanen, pengolahan, serta literasi manajemen usaha kopi. Program ini juga diarahkan untuk menarik minat generasi muda agar terlibat langsung dalam industri kopi, sehingga keberlanjutan sektor perkebunan tetap terjaga.
“Pekon bisa menganggarkan kegiatan ini melalui dana desa, selama memenuhi ketentuan yang berlaku dari pemerintah pusat. Jika anggaran sudah tersedia, pelatihan bisa langsung berjalan pada tahun 2025,” kata Anton.
Pelaksanaannya pun fleksibel: setiap pekon dapat mengadakan pelatihan secara mandiri atau berkolaborasi dengan pekon lain. Seluruh teknis kegiatan akan dikoordinasikan oleh Disbunnak Lampung Barat untuk memastikan keseragaman materi dan standar pelatihan.
Dengan hadirnya sekolah kopi hingga ke tingkat pekon, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat berharap dapat menciptakan ekosistem baru yang memadukan teknologi, pengetahuan, dan gotong royong sebagai motor penggerak pembangunan sektor kopi.
(ADV)



Tidak ada komentar