HEADLINE

Star Energy Targetkan Pemulihan 110 Hektare Hutan di Sekincau, Warga Dilibatkan

Star Energy Targetkan Pemulihan 110 Hektare Hutan di Sekincau, Warga Dilibatkan

LAMPUNG BARAT
— Upaya memulihkan kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di wilayah Sekincau mulai membuka peluang ekonomi tambahan bagi masyarakat setempat. Melalui program pemulihan ekosistem, PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau (SEGSS) menggandeng Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) untuk melibatkan warga dalam penanaman dan perawatan pohon di kawasan hutan yang mengalami kerusakan.

Sepanjang 2026, Star Energy menargetkan pemulihan hutan seluas 60 hektare. Dari target tersebut, sebanyak 10 hektare telah ditanami 9.300 pohon asli. Program kemudian direncanakan berlanjut pada 2027 dengan tambahan area seluas 50 hektare.

Dengan demikian, total komitmen pemulihan yang disampaikan perusahaan mencapai 110 hektare selama tahap eksplorasi.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk memulihkan fungsi ekologis hutan, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan pada sektor perkebunan kopi.

Bagi warga Sekincau, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan selama puluhan tahun. Sebagian masyarakat bahkan telah mengelola kebun kopi sejak 1970-an, sebelum kawasan Bukit Barisan Selatan ditetapkan sebagai taman nasional.

Ketergantungan masyarakat terhadap kebun kopi menjadi salah satu realitas sosial yang perlu diperhatikan dalam upaya menjaga kelestarian hutan. Di sisi lain, kawasan tersebut memiliki fungsi penting sebagai habitat satwa liar, termasuk harimau dan gajah Sumatra, sekaligus menjaga sumber air dan keseimbangan ekosistem.

Manfaat Ekonomi di Luar Musim Panen Kopi

Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemulihan hutan memberikan peluang penghasilan tambahan, terutama ketika aktivitas perkebunan kopi mulai berkurang setelah musim panen.

Sugeng, warga Srimenanti, mengaku pekerjaan menanam pohon membantu dirinya memperoleh penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu orang tua.

“Setelah musim panen kopi selesai, pekerjaan di kebun berkurang. Karena itu, kesempatan ini sangat membantu menambah penghasilan. Sebagian saya tabung untuk persiapan berumah tangga dan sebagian lagi untuk membantu kebutuhan orang tua,” kata Sugeng.

Manfaat serupa dirasakan kelompok tani yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ketua Kelompok Tani Maju Berkarya Srimenanti, Zainal Abidin, mengatakan program pemulihan hutan memberikan kesempatan bagi warga untuk tetap memperoleh pendapatan ketika pekerjaan di kebun kopi tidak sebanyak saat musim panen.

“Kesempatan ini membawa berkah, terutama setelah musim panen selesai. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan dapur dan uang jajan anak sekolah. Kami juga mendapat pengalaman baru dalam merawat tanaman,” ujar Zainal.

Menurut Zainal, keterlibatan kelompok tani dalam kegiatan penanaman dan perawatan pohon juga memberikan pengalaman baru bagi masyarakat. Ia berharap program tersebut dapat berlanjut dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Salah satu harapan yang disampaikan adalah penanaman pohon buah-buahan yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi warga pada masa mendatang.

Kelompok Tani Berpeluang Terlibat Lebih Luas

Ke depan, kelompok tani berpotensi dilibatkan tidak hanya dalam penanaman, tetapi juga dalam penyediaan bibit, perawatan, hingga pemantauan pertumbuhan pohon. Salah satu pendekatan yang sedang dijajaki adalah memadukan jenis pohon hutan asli dengan tanaman bernilai ekonomi, seperti petai, jengkol, dan durian. Pelaksanaannya tetap harus menyesuaikan kondisi lahan, kebutuhan pemulihan ekosistem, serta ketentuan yang berlaku di kawasan taman nasional.

Namun, skema tersebut masih dalam tahap penjajakan. Star Energy Geothermal bersama BBTNBBS dan masyarakat masih mencari bentuk kerja sama yang sesuai agar pemulihan hutan berjalan berkelanjutan tanpa mengabaikan ketentuan konservasi.

Head of Social Investment, Policy and Communications PT Star Energy Geothermal, Laksmi Prasvita, mengatakan keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak menjaga pertumbuhannya dalam jangka panjang.

“Bagi kami, keberhasilan pemulihan hutan bukan hanya soal berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi bagaimana pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dan dijaga dalam jangka panjang. Kami ingin masyarakat ikut mengambil peran, sekaligus menjajaki peluang agar kegiatan menjaga hutan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka,” ujar Laksmi.

Pemulihan Hutan Membutuhkan Perawatan Jangka Panjang

Dalam kegiatan pemulihan ekosistem di Sekincau, sejumlah jenis pohon asli ditanam, antara lain pulai, damar, meranti, medang, dan merawan. Pemilihan jenis tanaman dilakukan berdasarkan kajian lingkungan serta arahan teknis BBTNBBS.

Penanaman menjadi tahap awal dari proses pemulihan yang membutuhkan waktu panjang. Tanaman harus dirawat, dipantau pertumbuhannya, dan dilindungi agar kawasan yang mengalami kerusakan dapat kembali mendukung kehidupan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar.

Pemulihan tersebut juga diharapkan membantu menghubungkan kembali bagian-bagian hutan yang terpisah, menjaga sumber air, serta memperbaiki kondisi lingkungan secara bertahap.

Dalam pelaksanaannya, perusahaan tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan pengelola kawasan konservasi, kelompok tani, dan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.

Bagi warga seperti Sugeng dan Zainal, kegiatan ini menghadirkan peluang untuk memperoleh penghasilan tambahan sekaligus mengambil bagian dalam menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pohon yang telah ditanam mampu tumbuh dengan baik dan dipelihara secara berkelanjutan. Sebab, pemulihan hutan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu musim tanam, melainkan proses panjang yang membutuhkan komitmen, pengawasan, dan kerja sama semua pihak.(*)

Tidak ada komentar